Nur ATikah.,M.Sc.,A.Pt (kiri) dan Ajeng Dian Pertiwiwi, M.Farm.,Apt (kanan)

Dengan semakin meruaknya virus corona (Covid-19) khususnya di Indonesia, segala upaya pencegahan terus dilakukan oleh para ahli kesehatan, serta para tenaga medis diseluruh indonesia. Perguruan tinggi kesehatan yang merupakan zona saling berbagi ilmu pengetahuan dewasa ini ikut berperan serta dalam mengurangi resiko infeksi virus tersebut dengan mengerahkan dosen-dosenya yang berkualitas dalam perkara global yang sedang dihadapi.
Berangkat dari situasi diatas, masyarakat lagi-lagi digegerkan dengan terbatasnya hand sanitizer dipasaran karna keresahan yang berlebih akibat COVID 19 virus tersebut. Kesadaran masyarakat dalam meningkatkan daya tahan tubuhpun mulai meningkat, penggunaan obat tradisional dan jamu marak dikonsumsi.
Saat penyebaran virus corona baru atau disebut Covid-19 semakin membuat waspada, warga mulai terpikir untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh atau imun mereka, salah satunya dengan rutin mengkonsumsi jamu traditional. Dan disaat genting tersebut, salah satu Dosen yang ahli dalam idang obat tradisional di Politeknik Medica Farma Husada Mataram Ajeng Dian Pertiwi, M.Farm.,Apt mengambil inisiatif untuk mmengembangkan pengetahuannya untuk menyuplai bahan untuk meningkatkan daya tahan tubuh tersebut dengan membuat berbagai macam jamu tradisional dan beberapa jenis teh herbal, yang dimana akan sangat membantu dalam meningkatkan sistem imun bagi yang mengkonsumsinya. Permasalahan barupun mulai muncul, penggunaan hand sanitizer dan intensitas berlebih dalam mengkonsumsi jamu tradisional membuat kedua produk tersebut menjadi langka dipasaran.
Dalam hal ini Politeknik Medica Farma Husada Mataram sebagai salah satu kampus kesehatan di NTB, yang memiliki program studi diploma tiga farmasi tentunya tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi genting ini. Adapun Nur Atikah, M.Sc.,Apt dibantu oleh beberapa mahasiswa mengambil langkah konkret dalam menanggulangi masalah yang telah menjadi trending global tersebut, dosen program studi diploma tiga farmasi Politeknik Medica Farma Husada Mataram tersebut berhasil meramu hand sanitizer dari bahan alam pula.

Menurut Nur Atikah, latar belakang pembuatan hand sanitizer tersebut adalah untuk meningkatkan potensi bahan alam yg awalnya hanya dibuang menjadi sampah di masyarakat. “kami membuatnya dari kulit buah manggis, yang diekstrak, berdasarkan penelitian yang ada bahan ini memiliki daya antibakteri, sehingga dibuat dalam bentuk gel hand sanitizer”. ujar Nur Atikah.
Adapun terkait hand sanitizer buatan Politeknik Medica Farma Husada Mataram ini diproduksi menjadi dua jenis, yang pertama hand sanitizer berstandar WHO yang masih menggunakan bahan kimia, dan hand sanitizer berbahan alam dalam hal ini berasal dari ekstrak kulit manggis.
Berdasarkan informasi dari Wakil Direktur II Politeknik MFH Mataram, Reni Chairunnisah,. SKM.,MPH, hand sanitizer dan teh herbal yang diproduksi kedepannya pasti akan di komersialkan dengan harga yang rendah, terkait kebutuhan dimasyarakat saat ini, tetapi untuk saat ini seiring dengan Panic Buying yang melanda, bahan-bahan yang dierlukan untuk memproduksi hand sanitizer dan teh herbal tersebut masih sulit didapatkan. (HumasMFH).